Besucher

Montag, 29. Oktober 2007

Au-Pair Dessy

Kini sedang mengikuti Program Aupair PLUS, telah mendapat Gasteltern di Bayern dan akan berangkat ke Jerman pada 15. Januari 2008


Dessy :

"...ini sangat luar biasa!! Pengalaman yang sangat berarti dalam hidup saya!"






Pertama kali saya belajar bahasa jerman yaitu pada kelas 3 SMU,awalnya saya tidak tertarik untuk mempelajari bahasa jerman tesebut karena cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang hamba Tuhan, akan tetapi ketika saya melihat teman-teman yang mempelajari bahasa jerman akhirnya pada suatu kali aku coba untuk ikut belajar akhirnya dari pertama kali saya mempelajarinya bersama teman-teman ternyata saya tertarik juga,akhirnya pada pertengahan semester 2 saya minta di pindahkan ke jurusan bahasa,kan pada awalnya saya masuk jurusan IPA Akhirnya atas persetujuan orang tua saya dan kepala swekolah saya di pindahkan ke jurusan bahasa. Pada awal saya masuk ke kelas bahasa saya banyak ketinggalan pelajaran dan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari Bahasa jerman,tapi saya punya rasa percaya diri yang tinggi kalau saya bisa mengejar ketertinggalan materi pelajaranya,dan akhirnya apa yang saya harapkan terjadi pada akhir semester saya berhasil masuk lima besar dan salah satu nilai pelajaran saya yang tertinggi adalah Bahasa jerman.Selain itu saya juga ikut dalam tes penyaringan siswa berprestasi di sekolah, akhirnya saya lulus dan berhasil masuk ke perguruan tinggi tanpa melalui tes SPMB lagi.

Saya sanggat bersyukur karena telah berhasil masuk pada salah satu perguruan tinggi negri di Ambon dan saya memilih jurusan bahasa jerman, semester pertama saya memperoleh nilai yang baik juga,hingga pada awal semester 2 saya di pilih untuk ikut dalam kegiatan kongres ikatan mahasiswa bahasa dan sastra jerman jerman se indonesia(IMBSJI) yang pertama kalinya,dan bertempat di UNJ( universitas negri jakarta) tahun 2003. Dalam kegiatan itu kita banyak belajar hal-hal yang belum di mengerti khususnya dalam mempelajari bahasa jerman. Pada tahun 2004 saya kembali ikut keg kongres itu lagi yang bertempat di UPI( universitas pendidikan indonesia) Bandung. Kemudian pada tahun 2005 saya juga masih mengikuti kegiatan kongres dan kali ini bertempat di UNESA ( universitas negri surabaya ) surabaya dan terpilih sebagai ketua koordinator IMBSJI untuk daerah wilayah timur, banyak pengalaman yang saya dapat ketika mengikuti kegiatan tersebut.

Ketika saya sudah s
elesai dalam mengikuti kegiatan perkuliahan, saya banyak mengabiskan waktu di perpustakaan untuk menyusun skripsi, akan tetapi pada suatu kali saya datang ke kampus dan saya mendengar dari salah seorang adik tingkat saya yang sekarang telah berada di Jerman tentang suatu program proses pengenalan budaya jerman bagi orang asing yang dinamai " Au-pair". Dimana maksud dan tujuan program ini yaitu bagaimana kita dapat mempelajari kultur dan budaya Jerman itu sendiri dan juga dapat memperbaiki bahasa Jerman kita agar menjadi lebih baik lagi. Selain itu kita juga bisa tinggal bersama keluarga di Jerman selama satu tahun,,asyik kan???? pada awalnya saya tidak tertarik karena saya fikir bahasa Jerman saya masih kurang sempurna jadi saya takut untuk mengikutinya. Akan tetapi ketika saya mengemukakan keinginan saya kepada ke dua orang tua dan para dosen akhirnya saya di motifasi oleh mereka semua, dan akhinya saya pun mulai mengikuti prosesnya dan pada akhirnya saya lulus dalam seleksi tesnya dan kemudian, berangkat lagi ke Jakarta untuk mengikuti persiapan-persiapan sebelum keberangkatan ke jerman,salah satunya yaitu mengikuti kursus dan pelatihan-pelatihan yang akan dilakukan di Jerman Club...

Bagi saya ini sangat luar biasa dan merupakan sebuah pengalaman yang sanggat berarti dalam hidup saya,,,,,,soooo bagi kaula muda jangan mau ketinggalan....belajarlah Bahasa Jerman dari sekarang pokokny asyik banget deh,, bayangin aja bisa ke Jerman dan tinggal selama 1 tahun......!!!!!!!!!!

Foto: Saat mengikuti Au-Pair-Ausflug ke Bandung, 20 Oktober 2007.



ARTIKEL SEBELUMNYA:

Londra:

Dessy : Relia:
Veronika:
Yolani:
Miranda:
Febry:


Kumpulan Artikel :
Kemampuan mendongeng penting untuk adaptasi dengan Gastkinder





http://www.trafficzap.com/exchange/index.php?rid=77452

Sonntag, 28. Oktober 2007

Au-Pair Yolani

Yolani :

"...orang lain saja peduli, kenapa saya tidak?"






Pertama kali saya mengetahui tentang Au-pair yaitu dari Eby & k Mira. Mereka sering cerita ke saya tentang apa itu Au-Pair, syarat-syarat untuk mengikuti Au-pair, juga tentang Gastfamilie & foto-foto anak yang akan mereka asuh. Respons saya waktu itu biasa biasa saja & tidak ada rencana untuk mendaftar sebagai anggota Au-Pair berikutnya. Sampai suatu saat tepat tanggal 17 Juni 2007,( 2 hari setelah saya lulus ZD ) saya dipanggil sama Frau Serpara( Ketua Program Studi Bahasa Jerman, yang juga merupakan pembimbing akademik saya ). Beliau menjelaskan panjang lebar kepada saya tentang Au-pair & menganjurkan saya untuk ikut program Au-pair. Setelah saya berbicara dengan ibu Serpara, saya jadi tertarik untuk mengikuti program Au-pair, tapi bukan untuk tahun ini melainkan tahun depan (2008), karena saya harus menyelesaikan beberapa mata kulia yang masih tertunda. Orang tua saya juga setuju dengan rencana saya itu.

Namun sekitar tanggal 4 atau 5 Oktober lalu,waktu saya lagi main di rumah teman, k dessy menelpon saya & menyuruh saya segera ke kampus secepatnya karena sedang ditunggu sama Frau Serpara & Herr Ott. Dan saya segera ke kampus dan menemui mereka. Ternyata Frau Serpara & Herr Ott meminta saya untuk mendaftar Au-pair 2007 secepatnya, katanya itu baik untuk masa depan saya. Saya jadi terharu dan berpikir "Orang lain saja peduli dengan masa depan saya. Kenapa saya sendiri tidak bisa melakukan yang terbaik untuk masa depan saya??".


Foto tengah :
Kegiatan masak bareng, persiapan tour ke Tangkuban Perahu

Dari situlah saya termotivasi untuk mengikuti Au-pair. Walaupun sebenarnya bahasa jerman saya masih dibawah standar,tapi saya punya prinsip "Bisa karena Biasa" itu yang membuat saya tidak takut untuk mendaftar sebagai anggota Au-pair 2007. Dan tujuannya yaitu supaya saya bisa memperbaiki bahasa saya nanti. Kemudian saya membicarakannya dengan orang tua saya, dan puji Tuhan mereka sangat mendukung, dan bersedia menanggung biayanya. Kemudian saya menghubungi Herr Ebeth untuk diwawancarai. Setelah itu dengan bantuan teman-teman, saya membuat pelamaran, mengurus surat-surat& passport. Setelah semuanya selesai, tanggal 18 oktober saya dan ke 2 teman saya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kursus sambil menunggu Gastfamilie.






Baca juga Artikel lainnya:

Dessy:

Londra:

Veronika:

Miranda:

Febry:


Kumpulan Artikel :
Kemampuan mendongeng penting untuk adaptasi dengan Gastkinder



http://www.trafficzap.com/exchange/index.php?rid=77452

Samstag, 27. Oktober 2007

Dari Jakarta ke Jerman


Hallo Herr Ebeth,

Apa kabar?Saya percaya Herr dan keluarga dalam keadaan sehat dalam lindungan Tuhan. Terima Kasih untuk doa-doanya, saya sudah tiba di Jerman dengan selamat. Terima kasih juga untuk semua nasihat, teguran, ilmu yang sudah diberikan kepada saya selama ini. Terima kasih untuk semuanya, saya tidak dapat membalas semua kebaikan ibu dan pa selama ini, saya hanya bisa berdoa, supaya Allah yang membalasnya.

Maaf saya baru sempat mengirimkan E-Mail, karena kemarin Herr Bernd baru memberitahukan password di computer saya dan mengajarkan bagaimana menggunakan computer ini.
Oh iya Herr, saya punya pengalaman yang sangat berkesan dari Jakarta sampai ke Jerman yang tidak mungkin saya lupakan, dan tidak mungkin juga dialami oleh orang lain.

Waktu di Bandara Soekarno Hatta, kami (Londra n Vero) ketika akan pemeriksaan passport dan Visa, kami diberikan kartu kedatangan. Setelah diisi, kami pun mengantri, tetapi hanya satu kartu yang kami tanda tangani, yang satunya belum karena agak sedikit bingung aja.. sementara kami berdiri, tiba-tiba ada seorang Cewek yang datang, dan dia berdiri di belakang saya, wajahnya asli orang Jawa dan karena dia senyum-senyum dengan saya akhirnya saya pun bertanya kepada dia sambil menunjukkan kartu itu: "Mbak, saya mau tanya, di sini tanda tangan juga yah?" dan dia menjawab: "Sorry, i'm from Spanyol, i just speak English!" Hah......... ternyata dia bukan orang Indonesia ............

Setelah pemeriksaan itu saya dan Vero tertawa terbahak-bahak, saking lucunya..........di kira orang jawa ternyata orang Spanyol lho..............Saya diketawain oleh Vero terus, walaupun udah sampe di pesawat, bahkan sampe di Dubai, masih aja di ketawain.

Waktu kami tiba di Dubai, kami pun mengikuti orang-orang yang turun, dan karena harus ganti pesawat, maka kami pun mencari informasi untuk pergantian pesawat. Kami menanyakan semua petugas yang ada di situ, dan dia menunjukkan kepada kami. Ketika tiba di depan meja informasi, dan kami memberikan boarding pass kami kepada petugas itu, eh dia tidak layani, tetapi kami di cuekin. Akhirnya kami hanya berdiri menunggu, kami pikir mungkin dia sedang sibuk. Sambil berdiri, kami berusaha menyakan orang-orang di sekitar kami. Ada seorang bapak yang berdiri dekat Vero, dan karena tidak mau membuang-buang waktu, dia (Vero) langsung bertanya, mungkin karena sudah bosan menggunakan bahasa Ingrris, dia langsung menggunakan bahasa Jerman dan bertanya kepada bapak itu: "Sind Sie Deutscher?" dan bapak itu menjawab dengan bingung: "No!". Setelah bapak itu pergi dan kami berdua tertawa terbahak-bahak:"Hwuahahahahaaaa...........", kali ini giliran Vero..........yang salah...........Kami masih berdiri di depan meja informasi itu sampai akhirnya ada sepasang suami istri yang datang ke dekat kami. Setelah kami mendengar bahasa mereka, ternyata mereka orang Jerman, dan kami bertanya kepada mereka dan akhirnya mereka yang menolong kami bicara dengan petugas itu, dan dia melayani kami...........!

Pendek cerita akhirnya kami tiba di Frankfurt, waktu kami sedang mengantri untuk pemeriksaan Passport dan Visa, Vero berkata kepada saya.... : "Londra, wir sind sehr klein!" lalu kami berdua melihat ke samping, depan dan belakang, ...ternyata kami sangat kecil! Sambil senyum-senyum saya berkata kepada Vero : "Kita seperti semut dan gajah!", dan dia langsung tertawa..............

Setelah mengambil bagasi, kami langsung keluar, tetapi Vero yang duluan keluar. 2 menit kemudian saya keluar, sementara berjalan ke luar, saya berfikir, siapa yang akan menjemput saya? Di depan pintu saya melihat Vero asik ngobol dengan ibu angkatnya, dan saya berjalan mendekati mereka, ternyata di sana sudah ada Gastvater saya. Ketika melihat saya, dia langsung senyum, tetapi lucunya, saya senyum tapi bingung. Saya hampir tidak mengenalnya, sampai di datang dan berjabat tangan denganku sambil berkata: "Hallo Londra, ich bin Bernd Weidmann. Herzlich Willkommen in Deutschland!". Barulah saya benar-benar yakin itu Gastvater saya.

Saya juga berkenalan dengan Gasmutter Vero, dan kami pun berpisah di dekat garasi mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Herr Bernd menjadi guide bagi saya. Perjalanan ke rumah hanya membutuhkan waktu 20 menit. Tiba di rumah, saya di sambut oleh Fr. Tina dan Ceww (anjing mereka yang besar hampir sama dengan saya). Lalu saya di ajak melihat-lihat seisi rumah. Kemudian saya di antar ke kamar saya, wow ternyata kamar saya itu baru lhooooooooooo..........dan kata mereka saya adalah orang pertama yang menempati kamar itu................dan bagi saya, itu sesuatu yang luar biasa!!!.

Kamar saya lengkap, plus computer dan Internet tanpa batas.......!Setelah itu saya juga di minta untuk menelepon keluarga saya di Indonesia memberitahukan bahwa saya sudah tiba dengan selamat di Jerman.

Lalu mereka menyuruh saya untuk istirahat, kata frau Tina kamu boleh istirahat hari ini karena kamu capek, besok baru kita ngobrol lagi. Sebelum tidur, Fr. Tina mengatakan kepada saya, jika saya mau ikut makan malam, silahkan bergabung. Biasanya makan malam jam 8.00 malam.
Tetapi karena kecapean, saya tertidur pulas, dan baru terbangun jam 2 tengah malam.

Waktu saya membuka pintu, di atas meja di ruang tengah antara kamar tidur dan kamar mandi, mereka sudah menaruh sandwich, makanan ringan lainya, buah dan minuman untuk saya. Selain itu juga, mereka menaruh pakaian tidur yang tebal dengan sendalnya yang masih baru di atas sofa. Saya tidak pernah memikirkan itu sebelumnya, mereka benar-benar baik............!

Pagi harinya kami sarapan sama-sama, dan setelah itu Fr. Tina menerangkan banyak hal kepada saya, bagaimana menggunakan barang-barang di dapur, yang semuanya elektronik itu. Dia juga mengatakan 2-3 hari ini saya hanya melihat-lihat saja apa yang dia kerjakan, nanti setelah itu baru saya menggunakannya sendiri. Saya juga membantu Fr. Tina untuk menggendong Kira karena Julia (saudara kembarnya Kira), masih di Rumah Sakit (RS). Fr. Tina benar-benar senang, karena ada yang menolong dia, karena mereka benar-benar sibuk mengurus bayi sendiri, maklum ini anak pertama mereka. Selain itu, dia juga sangat senang karena sepertinya Kira sangat freundlich dengan saya, dia tidak pernah menangis kalau saya gendong, dan kalau dia menangis dan saya gendong, langsung deh diam.

Sore harinya, kami sekeluarga ke Mannheim. Kami pergi ke RS untuk melihat Julia, dan mungkin hari selasa dia akan dioperasi, jika diagnosa dokter benar kalau ada sesuatu di lidahnya, tetapi jika tidak, dia tidak akan dioperasi. Setelah pulang dari RS, kami makan malam bersama, dan ngobrol bersama, walaupun mereka berbicara sangat cepat, tetapi puji Tuhan saya bisa menangkap apa yang mereka maksudkan. Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya saya meminta diri untuk tidur, dan pagi ini saya bangun jam 4.50 untuk mengirmkan email ini........

Karena pagi ini kami akan ke Supermarkt untuk belanja, jadi saya menggunakan kesempatan ini untuk mengirimkan E-Mail ini.

Itu dulu yah Herr..........nanti pengalaman saya dikirim lagi per E-Mail, semoga bisa memotifasi teman-teman yang lain.

Salam untuk Ibu, Grecg. Dinda, Irene juga teman-temanku Desy, Relia dan Yola, selamat belajar.....yah...jangan lupa kerjakan tugasnya yah.............! Tschuessss!


Salam Londra

Foto:
Au-Pair-Ausflug ke Bandung, Sabtu, 20 Oktober 2007. Kegiatan terakhir yang diikuti Londra di Jakarta, sebelum berangkat ke Jerman.



Baca juga Artikel lainnya:

Londra:
1) Pengalaman dan Proses menjadi Au-Pair

Veronika:
1) Menjadi Keluarga Jerman...., maulah!!!

Miranda:
1) Berawal dari cerita Tangkuban Perahu

Febry:
1) E-Mail dari Otzberg


Kumpulan Artikel :
Kemampuan mendongeng penting untuk adaptasi dengan Gastkinder




http://www.trafficzap.com/exchange/index.php?rid=77452

Donnerstag, 4. Oktober 2007

Au-Pair Londra

















Londra Septory:
"...kini saya buktikan, bahwa bahasa Jerman itu penting ! "



----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 04, 2007 2:32 PM
Subject: Pengalaman-pengalaman

PENGALAMAN & PROSES MENJADI AU-PAIR

Apa itu Au-Pair?
Bulan Oktober 2006, untuk pertama kalinya saya mendengar tentang Au-pair Maedchen! Waktu itu saya diberikan satu alamat Website oleh salah seorang dosen saya, dan kemudian saya membukanya di Internet.
Dari situlah saya tahu tugas tentang seorang Au-Pair dan keuntungan mengikuti program Au-pair. Saya tertarik dan kemudian mendaftar untuk menjadi Au-pair lewat internet.

Bulan Februari 2007 saya mendapat email, bahwa ada salah satu keluarga di Jerman menginginkan saya untuk menjadi Au-pair di keluarga mereka, dan mengharapkan saya untuk berangkat dalam bulan itu, tentu saja itu sangat mustahil. Saya langsung membatalkan, dengan alasan studi, lagipula waktu itu saya belum siap, karena waktu yang sangat singkat. Sebenarnya saya telah berdoa, jika Tuhan menghendaki saya menjadi Au-pair, saya ingin berangkat pada bulan Oktober 2007.
Setelah pembatalan itu, semua orang menyalahkan saya, bahawa saya telah menyia-nyiakan kesempatan emas itu, tetapi dalam hati saya percaya, bahwa ada jalan lain menuju ke situ. Jika jalan ini tertutup, Tuhan akan membuka jalan lain, itu keyakinan saya. Saya kemudian mulai mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan Studi saya, seperti pengajuan judul skripsi dan kemudian penelitian, karena saya tidak mau menyia-nyiakan waktu hanya karena hal itu. Waktu itu saya sangat yakin, bahwa ada kesempatan lain bagi saya.

Bulan April 2007, saya membaca sebuah Brosur tentang Au-pair dari PT Fitzeman, yang ada di kampus saya. Saya kemudian berkata dalam hati saya, bahwa ini adalah kesempatan saya, ini adalah jalan yang Tuhan kasih untuk saya. Kemudian saya mulai berdoa dan membicarakan hal ini dengan orang tua saya. Awalnya mereka takut, tetapi saya meya
kinkan mereka, bahwa agennya jelas, dan saya akan tetap menjaga kepercayaan mereka kepada saya, sehingga akhirnya mereka setuju.
Bulan Mei 2007, saya mengirimkan email kepada PT Fitzeman, dan mendaftar untuk mengikuti program Au-pair. Kemudian saya mengikuti semua proses, mulai dari wawancara, sampai pengisian Formulir pengurusan passport dan lain-lainnya. Satu hal yang membuat saya sangat bersemangat yaitu ketika saya berbicara dengan Frau Simona Stroh (Leiterin der Au-Pair-Agentur Horizont di Jerman), dan dia mengatakan bahwa bahasa Jerman saya sangat bagus, itu satu hal yang sangat penting bagi saya, karena selama saya belajar bahasa Jerman, orang-orang di lingkungan saya selalu meremehkan. Mereka berpendapat bahwa saya akan sulit mendapatkan pekerjaan, kalau saya belajar bahasa Jerman, karena itu saya akan membuktikan kepada mereka bahwa anggapan itu sangat salah.

Awal Bulan agustus 2007, saya mendapat informasi dari Fitzeman, bahwa ada keluarga yang menginginkan saya menjadi Au-pair di keluarga mereka. Mereka kemudian menelepon saya dan berbicara langsung dengan saya. Dan orang Jerman kedua yang mengatakan bahwa bahasa Jerman saya sangat bagus adalah Gastmutter saya. Saya sangat gembira mendengarnya dan hal itu sangat memotifasi saya.
Tanggal 25 Agustus 2007, saya akhirnya berangkat ke Jakarta untuk pengurusan Visa dan sekaligus persiapan untuk ke Jerman. Di Jakarta, saya mengikuti training di JERMANclub milik PT Fitzeman. Di sana saya membantu dalam mengajar di Kinder Garten dan mengajar Ibu-ibu yang belum mengenal huruf (Program Pemberantasan Buta Aksara yang merupakan kerjasama JERMANclub dengan Pemerintah). Pertama kali melihat ibu-ibu itu, hati saya sangat tersentuh. Mereka adalah orang-orang yang berusia kira-kira 40 tahun ke atas dari suku Betawi asli, yang memiliki semangat tinggi untuk belajar membaca dan menulis. Saya sangat terkesan dan saya ingin sekali mengajar mereka dan memberikan ilmu yang saya miliki. Setiap hari senin sampai kamis tugas saya adalah mengajarkan ibu-ibu ini membaca dan menulis.
Dalam mengajar mereka, saya banyak mendapat pelajaran. Saya sangat senang melihat semangat mereka, mereka juga tidak menolak saya, bahkan mereka sangat senang. Saya banyak belajar budaya mereka, bagaimana saya orang Ambon bisa menyesuaikan diri dengan mereka orang Betawi. Saya belajar beradaptasi dengan lingkungan mereka, bagaimana berbicara dengan mereka, bagaimana mengajar mereka supaya mengerti, bahkan saya banyak belajar soal kesabaran. Saya harus sabar menghadapi 10 sampai 15 orang yang memiliki karakter dan daya tangkap yang berbeda, tetapi saya sangat mengasihi mereka. Mereka seperti orang tua saya sendiri, karena itu saya tidak merasa bosan untuk mengajar mereka.Mereka selalu setia dan tekun untuk belajar. Saya selalu memotifasi mereka supaya mereka tetap semangat untuk belajar.
Selain itu saya juga mendapat pelajaran di FITZKindergarten, bagaimana mengajarkan anak, bermain dan belajar dengan mereka.
Pengalaman seperti ini tidak akan pernah saya dapatkan, jika saya tidak mengikuti program Au-pair ini. Saya benar-benar sangat bersyukur untuk hal ini, karena bagi saya tidak semua orang memiliki kesempatan seperti yang saya miliki.



Cerita berikutnya...setelah londra berada di Jerman



http://www.trafficzap.com/exchange/index.php?rid=77452

Au-Pair Veronika






















Veronika : "...di dapur dan di kelas, sama-sama ok !

----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 04, 2007 1:44 PM
Subject: Meine Erfahrungen.............

Belajar “Deutsch “
Aku mengenal “Deutsch” (bahasa Jerman )sejak duduk di kelas III SLTA. Ketika sekolah aku sangat tertarik sekali dengan yang namanya “computer” bukanlah “Deutsch”. Untuk itulah aku mengikuti SPMB pada sebuah Universitas di Jakarta yaitu Tarumanegara jurusan Informatika. Karena pikirku di Ambon belum ada jurusan itu, jadi seandainya aku selesai berarti kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan lebih besar dan cepat. Tes itu kulalui dalam waktu yang singkat hingga akhirnya aku pun lulus dan berhasil masuk menjadi mahasiswa Informatika Universitas Pattimura. Aku begitu tertarik dengan komputer karena, benda itu sangat membuat ku penasaran untuk mengoperasikannya. Seandainya bisa di beli dengan harga yang murah aku ingin membeli 1 unit komputer dan membongkar seluruh elemen-elemennnya hingga membuatku puas. Siapa tau aku bisa merangkaikannya kembali. Jika bisa, berarti aku bisa kaya karena merangkai benda yang lumayan mahal itu.....!
Semua yang aku impikan telah terjadi namun kenyataan berkata lain. Rencana studiku tidak didukung oleh papa dengan alasan utama adalah aku adalah seorang anak perempuan yang belum mampu hidup sendiri dan mandiri. Untung saja saat itu aku sempat mengikuti SPMB lagi di Universitas di Kotaku yaitu Universitas Pattimura dan jurusan adalah Bahasa Jerman “Deutsch”. Sepertinya kemana-mana aku selalu di hantui dengan bahasa asing, di Informatika masih ketemu dengan bahasa Inggris di Unpatti juga masih ketemu lagi dengan bahasa Jerman atau Deutsch. Walaupun memang Bahasa Inggris ku gak begitu jelek-jelek amat. Untuk menjadi “Guide” 1 jam boleh......dech!
Tapi kalau yang namanya bahasa Jerman.........lebih parah lagi. Gak ngerti sama sekali alias “otak kosong”. Di tambah lagi papa ku lebih senang kalau aku ambil aja Bahasa Inggris tapi pengurusannya ribet. Jadi aku ambil aja Deutsch......apapun yang terjadi. Meski harus bermusuhan sama papa......Dan terkadang aku berpikir itu hanya sebagai pelarian aja......dari pada tidak sama sekali. Selama lima tahun aku belajar dan Mengenal “Deutsch” yang dari awalnya begitu ku benci tapi akhirnya pun aku sangat bangga karna tidak ada yang dapat sepertiku “mampu berbahasa Inggris + Berbahasa Jerman” itu khan “amazing” namanya!!!! Kita masing menang 1 POINT karena punya 2 bahasa.....Walaupun harus melewati begitu banyak tantangan dan mendengar banyak cibiran orang tentang “Deutsch” aku berusaha lewati saja. Dan mimpiku pun akan menjadi nyata "Flight to Germany" Karena aku tahu “apa yang JESUS rencanakan itulah yang TerBAIK”.............
Setelah mimpiku hancur kerna tempat kuliah yang harus terpisah dari ORTu ,Memiliki banyak teman dan famili di kawasan Eropa adalah mimpiku yang kedua. Banyak cara telah ku coba, sejak bekerja di sebuah LSM di kotaku (karena di huni banyak Europanis, kemudian mencari kesempatan lewat intrnet hingga akhirnya aku menemukan “”””AuPair-Maedchen””””.
Awalnya kupikir semua akan nihil, tapi setelah aku lalui semua tahap, akhirnya tiba di tahap pembuatan paspor yang membuat ku percaya, dan yang lebih membuatku bertambah yakin lagi “aku di telpon langsung dari Jerman“ wow..............itu merupakan sesuat yang luar biasa. Aku yang berada di kawasan timur Indonesia bisa di telpon dari Kawasan Eropa...........luar biasa bukan................!!!!!!!!!
Setelah itu di tambah lagi dengan pembuatan visa serta email yang langsung aku dapat dari orang Jerman asli.... seakan-akan menggambarkan kita sudah pernah bertemu dan berkenalan. Padahal baru lewat email dan telepon. Tapi merasa bagaikan sudah menjadi anggota keluarga.

Menjadi Keluarga Jerman ..........Maulah!!!!!!!.........
Sambil menunggu visa, kita di perbiasakan dengan anak-anak lewat sebuah Kindergarten yang namanya adalah JERMANclub yang merupakan anak perusahaan PT. Fitzeman yang adalah agen yang mengatur kita smpai tiba di Jerman. Dan Sekaligus yang memantau kemampuan kita dalam beradaptasi. Jadi kita tidak sendiri. PT. Fitzeman juga memiliki sebuah Kindergarten, namanya FITZ-Kindergarten.
Di Kindergarten kita di perbiasakan dengan kebiasaan anak-anak dengan karakternya yang berbeda-beda. Dan disitu bagaimana kita belajar cara mengatasi karakter- karakter anak yang berbeda-beda itu. Dan yang lucunya lagi...........kita harus mengajar, menyanyi dengan gerak-gerak yang menarik dan ekspressi yang menarik juga jangan sampai mereka bosan terus menangis......kelasnya bakalan ribut..kalau semuanya pada nangis.........! makanya..........kita harus punya banyak akal, taktik, atau cara lah yang kreatif sehingga bisa menarik perhatian mereka............ Dan semua itu bisa kita pelajari di Kindergarten................Kindergarten manalagi kalau bukan ........JERMANclub....Ok......

PRAKTEK MASAK :
Stof-Kartoffeln jadi menu andalan Veronika. Lecker!!

Kegiatan Au-Pair yang padat di JERMANclub Bekasi tidak menjadi alasan para Au-Pair bebas dari rutinitas di dapur. Magang berlaku dalam segala hal. Kemampuan dapat memasak beberapa masakan tradisional Indonesia, juga merupakan jadwal yang harus dikerjakan. Gambar diatas adalah masakan asal Maluku, Stof-Kartoffeln. Waktu Praktek masak pertama kali, menu inilah yang menjadi pilihan utama. rasanya enak. Pinginnya sih minggu depan juga menu itu, sayang nggak boleh, karena setiap saat praktek masak tiba, menu yang harus dimasak selalu berfariasi. Setiap Au-Pair harus bisa mempersiapkan diri untuk memperkenalkan salah satu dari menu tradisional dan nasional sebagai alternatif dalam pengenalan aneka ragam masakan Indonesia dalam tata cara makan Internasional, yaitu sebagai Vorspeise (menu pembuka), Hauptgericht (menu utama) dan Nachtisch (menu penutup).






http://www.trafficzap.com/exchange/index.php?rid=77452